Mother’s Day a.k.a Hari Ibu
Guten nacht…
Baru kemaren kita ngerayain hari ibu
Beberapa hari sebelumnya gw ngadain polling kecil2an, nanyain ke temen2
tanggal berapa sih hari ibu?
Yeah well, most of them know it…
Tapi coba renungkan…
Apa hal yang terbaik yang bisa buat ibu2 kalian bangga?
Mereka udah berkorban banyak sama kita, terus apa pengorbanan kita buat
mereka?
Have we been good children?
Have we obeyed all her rules?
Have we heard all her advice?
Buat gw, kayaknya point ke-3 belum bisa dilakuin. Ga peduli sebanyak
apapun nasehat nyokap gw, tetep aja kadang-kadang gw lakuin
Buat temen2, gw pengen tanya kapan lw terakhir liat nyokap lw nangis di
hadapan lw?
Beliau rela terus tersenyum di hadapan kita, walaupun beban berat sedang dipikulnya
Buat temen2 yang masih bisa melihat senyum bahagia ibunya sampai detik
ini, terus bahagiakan mereka karena kita pun tak tahu kapan terakhir kali
bisa melihat senyum bahagia itu terpancar dari wajahnya
Aku Bukan Penikmat Pesta (tapi ingin diperhatikan)
Aku bukan penikmat pesta
Yang gemar jejingkrakan ketika dentum suara mulai bergema
Aku bukan penikmat pesta
Yang mendentingkan gelas bersorak gembira
Aku hanya sesosok perenung
Entah apa yang ada di benak yang kosong ini
Apakah aku hanya tahu sinus cosinus tangen?
Tidak, aku juga penikmat berita…
Setidaknya akupun tahu (sedikit) dari apa yang kamu tahu
Memang, aku bukan penikmat pesta
Tapi aku juga butuh atensi
Akankah distorsi kehidupan akan membuat eksistensiku terancam?
Aku Ingin Seperti Mereka….Berhasil…
Alhamdulillah, ada waktu lagi buat ngurus blog
Lagi posting sambil baca blog (temen-temen SMANSA) yang keitung sukses…
Mungkin udah ngga usah disebut lagi karena di blog anak SMANSA yang lain juga udah kesebut
Banyak cerita2 mereka yang bikin gw iri, mereka punya kekurangan di sana sini tapi bisa “menjadi” someone
I wanna be like them, who are remembered by his/her achievement or his/her ease to make friends…
Kalo ilmu2 ky gitu apa bisa didapet di internet?
Detik-Detik Terakhir
Lelah mencari akhir pelarian ini
Mentari jingga hari ini akan jadi mentari terakhirku
Karna esok, ku tak dapat melihat warna jingga itu lagi
Telah disiapkan tujuh jagal
Yang siap menghantar nyawaku
Entah, entah kemana jiwaku ini akan diantar
Aku hanya ingin kebenaran
Mungkin hanya aku dan dinding serta jeruji bui yang paham
Aku tidak meledakkan Kedubes Australia
Membumihanguskan Jimbaran
Atau meluluhlantakkan J.W Marriot
Aku cuma anak pesantren yang belajar tajwid dan tauhid
Sekarang, tepat tujuh jam dari eksekusi, aku belum terlelap
Yang ku inginkan hanyalah kebenaran dan keadilan
Ah…ketika semua dalam hidup ini terasa indah
Mengapa aku harus mengakhirinya?